Sitename

Description your site...

Sejarah Tiyuh Pagar Dewa Tempat Kerajaan Tulang Bawang Berada

Sejarah Tiyuh Pagar Dewa Tempat Kerajaan Tulang Bawang Berada

Panglima Tubaba – Kampung/Tiyuh Pagar Dewa berkedudukan di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) Provinsi Lampung. Sebenarnya bukan Pagar Dewa tetapi Pager Dewou asal kata dari Pagar Dewa, Pagar artinya dikelilingi/ dilingkari/ dipagari, Dewou artinya Dewa-dewa. Arti pengertian Pagar Dewa :
1. Kampung yang didiami oleh Dewa-dewa (orang lebih)
2. Pagar Dewa = pepatian, pepatian bahasa Lampung = kematian, Pagar Dewa diartikan suatu tempat pembunuhan, bunuh membunuh antara satu dengan yang lainya.
3. Pepatian = Raja-raja / para ningrat jadi Pagar Dewa tempat berdirinya para raja-raja. Sebagai terlihat diatas, Pagar Dewa dilingkungi oleh para keramat-keramat yang menurut anggapan rakyat sama halnya dengan Dewa karena kesaktian-kesaktian mereka dan mukjizat-mukjizat para Dewa. Jadi Pagar Dewa Kampung/Tiyuh yang dikelilingi oleh Dewa – dewa.

Satu hal lagi keistimewaan yang terdapat di Tiyuh Pagar Dewa yang sampai sekarang masih jadi sebutan : “Pagar Dewou Mengan Jimou“, artinya orang Pagar Dewa makan orang, sebenarnya tidak demikian, sewaktu Minak Pati Prajurit akan ke Negeri Balau Kedamaian, Kedaton Tanjung Karang, dengan maksud akan mengambil Putri Balau yang akan dipersuntingnya sebagai permaisuri beliau.

Sebelum sampai di Negeri Balau, beliau berlabuh di Muara Wai Lunik jurusan Pelabuhan Panjang, karena disitu satu-satunya jalan masuk ke Negeri Balau dari laut, sedangkan beliau berlayar dari sungai Tulang Bawang melalui laut Jawa baru sampai disitu, karena perhubungan jalan darat pada waktu itu belum ada. Sampai di Way Lunik, beliau terpaksa bermalam beberapa malam, sebab penjagaan terlalu ketat, sampai pohon-pohon nipah pada waktu itu seolah-olah seperti manusia hidup mengatur diri masing-masing yang seakan-akan merupakan pagar betis yang tak terlewatkan.

Untuk menakut-nakuti para pengawal penjagaan, disitu Minak Pati Prajurit memanggang satu tubuh manusia dan sekor tubuh rusa, setelah para pengawal melihat Minak tersebut maka Minak terus makan panggang itu, dari sinilah mereka mulai ketakutan dikatakanya Minak Pati Prajurit makan orang.

Yang di makannya adalah panggangan rusa, mulai dari sinilah terkenal jadi sebutan rakyat Tulang Bawang bahwa orang Pagar Dewa makan orang, nanti dilanjutkan dalam cerita berikutnya dikala Minak Pati Prajurit mengambil Puteri Balau. (waktu ini Minak prajurit belum masuk islam).

Satu hal lagi peninggalan khas dari Keraajaan Tulang Bawang yang terdapat di Pagar Dewa pendukuhan (dahulu Pagar Dewa) disini sampai pada tahun 1950-an, masih terdengar suara-suara gamelan, bunyian musik kerajaan. Lebih kalau kita mau masuk ke Tiyuh tersebut dari jurusan Menggala dari kejauhan terdengar oleh kita, yang seolah – olah tamu -tamu yang akan masuk telah disambut dengan musik – musikan, anehnya setelah kita dekat suara itu hilang.

Terbukti lagi ditahun pertama dari kemerdekaan kita ada beberapa orang tua-tua dari Tiyuh ini pergi bertandang rotan atau mencari rotan kesasaran selama dihutan pedukuhan terlihat oleh mereka kolam ikan, ikan tersebut rata-rata besarnya sebesar tampui / niru.

Ada lagi diketemukan rumah besar yang indah laksana Istana karena terlalu indahnya, dan terlihat gong-gong besar terdiri dari emas dan banyak lagi alat-alat kerajaan lainya.

Setelah mereka sadar apa yang mereka lihat dalam beberapa jam kemudian hilang lenyap dengan seketika, yang seakan- akan dibawa oleh impian atas pengelihatan yang mereka lihat tadinya.

Masih banyak hal-hal lain keanehan dan peristiwa – peristiwa yang diluar akal kemampuan manusia biasa seperti kita ini, yang terjadi / terdapat di Tiyuh Pagar Dewa dan Tiyuh sekitarnya.

Yang sulit bagi kita masalah -masalah yang ganjil seperti tersebut baru dapat diketemukan apabila kita dalam keadaan sesat.

Hal-hal yang masih menyolok sampai pada akhir tahun 1950-an, kalau kita berjalan-jalan pada malam hari di Tiyuh Pagar Dewa ini sering dikejutkan oleh macan sebesar kucing keluar dari gubah keramat – keramat di Tiyuh ini.

Setelah berpuluh-puluh abad dari tahun pertama berdirinya Kerajaan Tulang Bawang , belum dapat kita gali dari kemurnianya yang sebenarnya katakanlah dari tahun pertama abad ke V dari kerajaan ini, samar-samar dan hampir-hampir tidak terdengar sama sekali.

Dari puluhan abad yang silam, nampaknya hilang tenggelam dari gelanggang percaturan sejarah, ini mungkin karena telah timbul kerajaan Hindu lainya di Sumatera Selatan misalnya kerajaan Melayu di Jambi pada abad ke VII M. dan Kerajaan Sriwijaya di Palembang pada abad ke VIII M.

Malahan yang terakhir ini adalah kerajaan besar yang kebesaranya bukan saja di Indonesia terkenalnya, sampai-sampai ke semenanjung malaka dan Ceylon / Colombo kekuasaanya.

Yakinlah para pembaca dan pendengar yang sedang mengikuti riwayat dari cerita kerajaan Tulang Bawang ini, asal besar akan tetap besar, asal kenamaan akan kenamaan kembali, asal emas tetap emas, sekalipun puluhan abad dalam kubangan lumpur.

Demikian akan halnya kerajaan ini akan terdengar kembali menjelang Islam masuk ke Lampung pada abad ke XV M. Diatas telah disinggung bahwa kerajaan ini puluhan abad yang silam hampir tidak terdengar lagi, lebih-lebih setelah berdirinya kerajaan Sriwijaya Abad ke XV M, adalah abad berakhirnya animisme Hindu dan permulaan agama Islam berkembang di Lampung.

Minak Kemala Bumi adalah salah seorang keturunan bangsawan dari keturunan Raja-raja Tulang Bawang.
Diperkirakan beliau lahir dalam abad XV M. yang dalam silsilahnya yang terdapat pada salah seorang anak cucu keturunannya, beliau adalah keturunan yang ke X dari Raja Tulang Bawang. Nama kecil beliau Prajurit yang artinya menurut bahasa hindu adalah bangsawan (Kesatria). Diatas telah kita sebut-sebut nama Tuan Rio Mangku Bumi orang tua Minak Pati Prajurit (Minak Kemala Bumi).

Tuan Rio Mangku Bumi mempunyai 2 orang saudara, yaitu Tuan Rio Tengah dan Tuan Rio Sanak, ketiga orang ini adalah puteranya Runjung Gelar Minak Tabu Gayau.

Tuan Rio Mangku Bumi ini adalah seorang yang cermat dan teliti dalam memperhatikan hal-hal sejarah yang berkenaan dengan keturunan kerajaannya.

Mungkin pada masa Tuan Rio Mangku Bumi menemui suatu riwayat tentang perselisihan antara kerajaan Tulang Bawang dengan kerajaan Sriwijaya sekitar pertengahan abad ke IX.

Setelah ditelitinya bahwa dahulu 4 atau 5 abad sebelum beliau dikala Kerajaan Sriwijaya akan bangun pernah terdapat suatu perselisihan antara Kerajaan yang baru ini dengan Kerajaan Tulang Bawang.
Dari sinilah timbul nafsunya untuk menyerang Palembang, hal mana betul-betul diperkirakannya, yang dibawah ini akan kita ikuti bersama jalan riwayat sejarahnya.

Diperkirakan pada permulaan abad XV M, mulailah pergerakan Tuan Rio Mangku Bumi melaksanakan niatnya dengan memanggil kedua saudaranya Tuan Rio Tengah dan Tuan Rio Sanak, yang ditugaskan beliau untuk menyusun kekuatan dalam Negeri, sementara beliau dalam perjalanan menyerang Palembang, dan sebelumnya anaknya Minak Pati Prajurit kembali dari Banten.

Kusuruh kemenakanmu keseberang lautan. Mencari ilmu mengisi badan. Kekuatan rhohip jangan diabaikan. Siapa yang kuat dia di Dewakan. Demikian kupesankan kepada saudara berdua, Ambilah tombak senjata pusaka, Akan kubawa bersama nyawa, Pertahankan terus kotanya dewa.

Kota Dewa yang dimaksud Tuan Rio Mangku Bumi adalah Pagar Dewa (pedukuhan sekarang), sedangkan senjata pusaka adalah tombak satu-satunya Kerajaan Tulang Bawang.

Tuan Rio Tengah diperintahkan bertahan di Menggala dan bersetaf di Meresou / Suka Raja untuk menjaga serangan musuh yang datang dari lautan, sedangkan Tuan Rio Sanak diperintahkan bersetaf di disekitar Tiyuh Panaragan, untuk mempertahankan serangan musuh dari daratan, bersama-sama dengan Panglima lainya.

Penjagaan jurusan Way Kiri adalah Panglima Tuan Rio Terbumi, Minak Rio Terbumi dan Empu Cangeh yang staf di Tiyuh Gunung terang, sedangkan dari jurusan Way Kanan adalah Minak Mekedum dekat Danau Lambo di Pagar Dewa. Tuan Rio Terbumi makamnya di Negeri Besar, Minak Rio Terbumi makamnya di Gunung Terang dan Empu Canggeh makamnya di Bakung.

Setelah pertahanan didalam Negeri tersusun sedemikian rupa, maka Tuan Rio Mangku Bumi bersama -bersama Panglima pribadinya yaitu Minak Cekei Dilangek dan Minak Tebesi Rawang.

Sebelum berangkat, berkata kedua Panglimanya ini, selain dari Tuan Hamba dan Patik Berdua siapa lagi teman kita dalam penyerangan itu ? ribuan banyaknya dibelakang kita pengawal yang tidak kelihatan, Panglima berdua tak usah khawatir turuti komando ku kat Tuan Rio Mangku Bumi Staf pertahanan kita di Pulau Gerunggang di hulu Palembang bila ternyata kita dalam keadaan gawat.

Tombak ini Panglima berdua silih berganti memegangnya, dan sewaktu-sewaktu kuminta bila sudah terdesak, taati semua amanatku ini, sebab kita berhadapan dengan Kerajaan yang besar, dan Panglima – panglimanya sangat gagah dan gigih, keberangkatan kita ini tidakkah pulang ke Daerah kita, jika tidak membawa berita antara kalah atau menang, hilang atau terbilang.

(Oleh : Edho, Sumber: http://ismu-nagaritohlangpohwang.blogspot.com/2011/11/muasal-dinamakanya-pagar-dewa-makam.html?m=1)

3,841 kali dilihat, 14 kali dilihat hari ini

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

error: Maaf Bro !!!